Kamis, 30 April 2015

PEMUDA SHALEH BERAROMA WANGI KESTURI, INILAH SEBABNYA

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang pemuda sederhana nan sholeh juga rupawan. Dialah Abu bakar Al-Misk, pemuda yang dari dalam tubuhnya selalu mengeluarkan wangi bunga kesturi.
Karena wangi itulah suatu hari ia ditanya, “Sungguh, kami selalu mencium bau wangi yang keluar dari tubuhmu, apa penyebabnya?”
Ketika ada yang bertanya seperti itu, dia lantas berkata, “Demi Allah, sudah bertahun-tahun aku tidak memakai minyak wangi.”
“Adapun yang menjadi sebab aroma wangi tubuhku,” lanjutnya menuturkan, “Suatu ketika ada seorang wanita mencoba memperdayaiku. Ia memasukkan aku ke dalam rumahnya, lalu mengunci setiap pintu-pintunya. Setelah semua pintu-pintu rumahnya terkunci, ia merayuku untuk berbuat keji bersamanya.”
“Aku pun bingung dan tertekan dengan tipu dayanya, tapi beruntunglah aku mendapat ide. Aku berpura-pura sakit perut dan meminta izin kepadanya untuk pergi ke belakang terlebih dahulu. Ia pun mengizinkannya.”
“Ketika aku masuk ke kamar kecil, aku ambil kotoran dengan tanganku, kemudian aku lumuri seluruh tubuhku. Tujuannya, agar pada saat si wanita itu melihatku, dia akan merasa jijik dan tak memiliki hasrat lagi padaku.”
“Selanjutnya aku pun kembali ke hadapan wanita itu dalam keadaan berlumur kotoran dengan bau busuk. Benar saja, ketika si wanita itu melihatku, ia kaget dan merasa sangat jijik.”
Karena hal itu pula, lanjutnya menuturkan, “Ia membukakan pintu dan mengusirku. Lalu aku pun pergi dan membersihkan diri. Keesokan harinya, ketika bangun dari tidur, aku menemukan bau harum yang berasal dari tubuhku. Dan bau harum itu tak mau pergi hingga kini.”
Masya Allah… Ternyata harum yang keluar dari tubuhnya, tak lain adalah buah dari ketaatannya kepada Allah Ta’ala. Karena ketaatan itulah yang membuat dirinya takut untuk bermaksiat di hadapan Allah Ta’ala, sehingga dia berusaha keras agar menjauh dari maksiat yang hampir saja menjerumuskannya pada dosa.
Lantas, bagaimana dengan kita bila berada pada posisinya? Mungkinkah kita akan melakukan hal yang sama? Atau justru kita malah terhanyut dalam arus syahwat yang menggelora?
Semoga, kisah ini mampu menggugah kembali kesadaran kita agar menjauhi perbuatan yang dapat menjerumuskan kita pada dosa zina, dan dosa-dosa lainnya. Wallahu a’lam bishshawwab. [Mustaqim Aziz]

6 Manfaat Menikah di Usia Muda

Dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para syababuntuk menikah.

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)
Syabab biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “pemuda.” Berapakah usianya? Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Asalkan sudah memiliki ba’ah (kemampuan), maka ia dianjurkan untuk segera menikah. Dan kini terbukti, banyak manfaat menikah di usia muda di balik perintah Rasulullah ini.

1. Lebih terjaga dari dosa

Sebagaimana sabda Rasulullah tersebut, menikah di usia muda itu lebih membantu menundukkan pandangan dan lebih mudah memelihara kemaluan. Seorang yang menikah di usia muda relatif lebih terjaga dari dosa zina; baik zina mata, zina hati, maupun zina tangan.

2. Lebih bahagia

Hasil riset National Marriage Project’s 2013 di Amerika Serikat (AS) menunjukkan, persentase tertinggi orang yang merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang menikah di usia 20-28 tahun.
Mengapa pasangan muda lebih bahagia? Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda lebih mudah menerima pasangan hidupnya. Bahkan, ketika sang suami belum mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy dengan kondisi tersebut. Hal ini sejalan dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah oleh kalian gadis perawan, sebab (..salah satunya..) ia lebih ridha dengan nafkah yang sedikit.”

3. Lebih puas dalam bercinta

Pasangan yang menikah di usia 20-an cenderung melakukan jima’ lebih sering daripada mereka yang menikah lebih lambat. Hasil studi Dana Rotz dari Harvard University pada 2011 menunjukkan, menunda usia menikah empat tahun terkait dengan penurunan satu kali jima’ dalam sebulan.
Sedangkan dalam tingkat kepuasan, menikah di usia muda –diantaranya dengan dukungan fisik yang masih prima- membuat suami istri lebih menikmati. Lagi-lagi, hal ini bersesuaian dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah gadis perawan, sebab ia lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih hangat farjinya…”

4. Emosi lebih terkontrol

Menikah di usia muda terbukti lebih cepat mendewasakan pasangan tersebut. Dalam arti, menikah dan berumah tangga membuat seseorang lebih terkontrol emosinya. Ini dipengaruhi oleh ketenangan yang hadir sejalan dengan adanya pendamping dan tersalurkannya “kebutuhan batin.” Dan itulah diantara makna sakinah dalam Surat Ar Rum ayat 21.
Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker pada tahun 2010 mendukung hal ini. Menurut hasil studi tersebut, menikah pada usia muda akan lebih bermanfaat dari sisi kesehatan dan mengontrol emosi.

5. Lebih mudah meraih kesuksesan

Sebagian orang menunda menikah dengan alasan mencapai jenjang karir tertentu atau hidup mapan terlebih dahulu. Padahal, saat seseorang telah menikah, ia menjadi lebih tenang, merasakan sakinah. Dengan ketenangan dan stabilnya emosi ini, ia bisa lebih fokus dalam meniti karir dan beraktifitas apa pun, baik dakwah maupun mencari maisyah. Karenanya tidak mengherankan jika banyak orang-orang yang sukses di usia 40-an adalah mereka yang menikah di usia 20-an.

6. Lebih baik bagi masa depan anak-anak

Lebih baik bagi masa depan anak-anak di sini bukan berarti menikah di usia muda memungkinkan anak sudah dewasa saat Anda pensiun. Meskipun, hal itu juga bisa menjadi salah satu pertimbangan.
Namun yang lebih penting dari itu, menikah di usia muda dan memiliki buah hati di usia muda, saat Anda belum mapan secara ekonomi berarti Anda dapat mendidik anak-anak secara langsung merasakan pahit getirnya kehidupan. Artinya mereka telah mencicipi perjuangan Anda. Dan jangan sampai anak-anak hanya tahu fasilitas dan hidup enak tanpa merasakan hidup adalah perjuangan.

Senin, 27 April 2015

Kisah Anak Durhaka yang Langsung Diazab di Dunia

Sebut saja namanya Karta. Ia telah menikah dengan wanita pilihannya. Wajahnya cantik. Namun sayang, hatinya tak secantik wajahnya. Karta mulai terpengaruh dengan istrinya dan hampir selalu menurutinya. Dari sinilah kisah tragis itu dimulai.
Selain Karta dan istrinya, di rumah itu juga tinggal ibunya. Sebelumnya, Karta bersikap baik pada ibunya. Tapi perlahan, sang istri men-‘cuci otak’-nya.
Suatu hari, sepulang Karta dari tempat kerja, istrinya mengadu. “Mas, ibu itu bagaimana sih. Kerjanya cuma jalan-jalan ke rumah tetangga. Nggak mau bantuin aku.” Karta langsung termakan kata-kata sang istri. Dicarinya ibunya.
“Ibu, ibu sukanya ke main ke rumah tetangga ya. Nggak mau mbantu menantu ibu.”
“Siapa yang bilang begitu. Ibu itu yang ngepel dan nyapu rumah ini, Karta. Ibu yang mencuci. Dan makanan yang kamu makan itu, itu juga ibu yang masak. Ibu memang ke rumah tetangga, tapi itu cuma sebentar. Untuk istirahat. Kalau istirahat siang-siang di rumah ini, ibu bisa dimarahi istrimu…”
Mendengar penjelasan itu, bukannya minta maaf, Karta malah tidak mempercayainya. “Ah, ibu alasan saja.”

Hari-hari berikutnya, hubungan antara Karta dan ibunya tak kunjung membaik. Apalagi hubungan antara ibu dengan istri Karta, semakin memanas. Hingga suatu malam, setelah Karta sampai di rumah, sang istri memintanya mengambil keputusan yang sangat sulit.
“Mas, aku sudah tidak betah lagi sama ibu. Aku dan ibu tidak bisa lagi tinggal dalam satu atap. Sekarang Mas pilih, aku yang pergi atau ibu yang keluar dari rumah ini,” kata istri Karta dengan nada tinggi. Karta bingung. Ia tidak tega mengusir ibunya, tetapi ia juga tidak sanggup berpisah dari istrinya.
“Kenapa seperti itu Dik. Aku sangat mencintaimu, aku tak mungkin hidup sendiri tanpamu. Tapi ibu, ia tidak punya siapa-siapa. Kalau ia pergi, pergi ke mana? Kasihan dia”
“Enggak Mas. Malam ini juga kamu harus putuskan. Ibu yang pergi atau aku yang pergi.” Luluh juga hati Karta di depan istrinya. Entah syetan apa yang merasukinya, ia pun melangkah ke kamar ibunya.

“Masya Allah, benarkah kamu mau mengusir ibu ini, Karta?” tanya ibu setengah tak percaya saat mendengar Karta memintanya pergi dari rumah.
“Iya, Bu. Ini demi kebaikan rumah tangga kami.”
“Kamu tega, Karta,” orang yang namanya dipanggil hanya diam, “kalaupun kamu mengusirku, tunggulah besuk pagi. Tengah malam begini, ibu harus ke mana?”
Karta terdiam. Ia tak menjawab. Tapi keputusannya telah bulat.

Beberapa waktu kemudian, ibu keluar dengan tas di tangannya. Tidak semua barangnya bisa dibawa. Ia melangkah berjalan di tengah malam, sambil air mata terus menetes membasahi pipinya. Sebagai seorang ibu, ia sungguh sangat kecewa. Sakit hatinya. Diusir oleh anak sendiri yang lebih mementingkan istri tak berakhlak daripada ibunya. Dalam kondisi itu, sang ibu pun berdoa. “Ya Allah, hatiku sakit atas perlakuan ini. Anakku sendiri mengusirku, padahal aku yang mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkannya. Ya Allah, aku tidak ridho padanya. Aku haramkan seluruh air susu yang diminumnya sejak bayi hingga membentuknya seperti saat ini.” Doa seorang ibu yang didurhakai, doa di tengah malam, dalam kondisi hujan rintik-rintik, ketiga faktor mustajabnya doa itu bertemu.
Keesokan harinya, Karta merasakan seluruh tubuhnya sakit. Kulitnya mulai gatal-gatal. Makin lama, kulitnya seperti melepuh. Hari-hari berikutnya lepuhan itu mengeluarkan nanah dengan bau yang menyengat. Sampai-sampai, tetangga yang menjenguknya pun tidak berani mendekat. Berbagai upaya medis tak juga membuatnya membaik. Karta menyadari bahwa ini mungkin karena kesalahannya mengusir ibunya sendiri di malam itu. “Tolong carikan ibuku, aku ingin minta maaf. Sakitku ini karenanya,” pintanya pada seseorang.
“Tidak. Biar Karta merasakan sakit itu. Sakitnya hatiku diusir lebih sakit dari apa yang dirasakan Karta,” jawab sang ibu saat ditemui pesuruh Karta, “aku tak mau kembali ke rumah itu.”
Beberapa hari kemudian, Karta pun meninggal. Begitu busuknya bau Karta, sampai-sampai modin setempat tidak mau memandikannya sendiri. Ia menyewa orang untuk memandikan Karta. Waktu meninggalnya Karta hampir bersamaan dengan meninggalnya orang lain di kampung yang sama. Sehingga tersedialah dua galian untuk memakamkan mereka. Dan baru saja Karta dimakamkan, keributan terjadi.
“Ini seharusnya makam untuk saudara saya, kenapa ditempati,” kata seseorang yang terkejut melihat galian makam untuk saudaranya telah terisi.
“Maaf pak, kami tidak tahu. Karena sudah terlanjur, sekali lagi kami minta maaf. Mohon almarhum dimakamkan di galian satunya Pak, kan sama-sama makamnya”
“Tidak bisa! Ini sudah kita pesan liang lahatnya dekat dengan anggota keluarga yang meninggal sebelumnya. Kalau di sana kan jadi terpisah. Kami tidak mau. Harus dibongkar”

Karena tidak bisa diajak kompromi, akhirnya warga pun mengalah untuk membongkar kembali makam Karta. Anehnya, saat makamnya dibongkar, mereka mendapati kain kafan Karta telah berubah warna; coklat keabu-abuan. Tubuhnya juga tampak lebih tipis. Dan begitu dibuka, mereka terkejut bukan main. Jenazah Karta berubah warna dan bentuk, seperti hangus terbakar. Demikian dahsyatnya azab bagi anak yang durhaka kepada ibunya. Azab pedih langsung terjadi di dunia dan lebih pedih lagi saat berada di alam barzah. [Tim Redaksi Kisahikmah.com]

Bersabarlah Ketika Sakit

Musim yang tidak tentu, kadang hujan turun  tiba-tiba. Terkadang matahari bersinar terik dalam waktu yang lama. Bagi yang mempunyai banyak pekerjaan, sakit menjadikan seseorang terhenti aktivitasnya. Bukan saja orang yang sakit, tetapi yang merawatnya pun akan mengeluarkan tenaga dan waktu ekstra hingga keadaan kembali seperti sediakala.
Sakit, banyak orang yang mengutuk kata ‘sakit’ itu sendiri. Dengan alasan tidak suka dan bikin kepayahan. Banyak ditemui ketika sakit menyerang, semakin lemah pula kejiwaan seseorang. Ketika sehari-hari begitu sibuk bekerja sampai melewatkan waktu-waktu ibadah. Pada saat sakit pun, ibadah tetap terlewat. Entah dengan cara apa kita akan kembali mengingat bahwa kematian tidak mengenal usia. Sakit adalah alarm untuk tubuh kita yang selalu diporsirkan dalam hal keduniawian, atau cara Allah mengingatkan hambanya agar selalu bersyukur atas nikmat sehat. Jika sehat saja kita begitu lalai, hingga sakit datang kita tidak jua paham. Itu semua terjadi mana kala hati kita jauh mengingat Allah SWT. Jika hati kita selalu dekat dan selalu berbaik sangka kepada Allah SWT. Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang serta Maha Pemberi Karunia, akan memberikan afiat kepada kita.
Jika kita selalu berbaik sangka kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan seperti yang kita prasangkakan. Allah SWT ada pada prasangka umatnya, jika kita berprasangka baik kepada-Nya, maka kebaikan itu akan kembali pada diri kita, tetapi bila kita berprasangka buruk, maka Allah ada dalam prasangka itu. Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Aku berada dalam prasangka hamba-Ku tentang-Ku, dan Aku bersamanya tatkala dia mengingat-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Memperbanyak mengingat Allah SWT ketika sehat maupun sedang sakit, akan membuat hati menjadi tentram. Allah SWT berfirman dalam surat QS. Ar.Ra’d [13] : 28, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”
Sakit atau musibah lainnya yang tidak berkenan dihati, janganlah bersedih dan meratapi diri. Bahkan dalam kesenangan atau kegembiraan itu semua merupakan ketetapan Allah SWT. Suka maupun duka dalam kehidupan adalah ketetapan Allah SWT, sebagai ujian dan cobaan yang penuh hikmah.
Ketika sakit yang harus kita lakukan adalah banyak mengingat Allah sambil berdzikir dan melakukan amalan ibadah. Perbanyak istigfar memohon ampunan kepada Allah. Berikhtiar dengan berobat ke dokter atau pengobatan ala rosul. Asal jangan sampai kita khilaf dan kalap sampai percaya kepada dukun.

Dengan selalu bertawakal kepada Allah dalam keadaan sakit, dan selalu menjalankan perintah-Nya sekalipun harus sholat diatas tempat tidur karena tidak kuat lagi berdiri. Memohon kesembuhan kepada Allah SWT. Firman Allah SWT dalam QS.At Thalaaq: 3, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya (yang dikehendakinya) Nya, sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan-ketentuan bagi setiap sesuatu.” [Ernawati/Bersama Dakwah]